Tuba Fallopi adalah organ yang sangat rentan terhadap infeksi yang naik dari serviks dan vagina. Penyakit Radang Panggul (Radang Panggul) merupakan infeksi yang paling umum dan merusak yang memengaruhi organ reproduksi wanita bagian atas, termasuk rahim, ovarium, dan khususnya Tuba Fallopi (salpingitis). Infeksi ini seringkali bermula dari penyakit menular seksual (PMS) yang tidak diobati.
Penyebab utama Radang Panggul adalah bakteri, seperti Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini bergerak naik melalui leher rahim dan menginfeksi lapisan Tuba Fallopi. Respon inflamasi yang terjadi akibat infeksi ini menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan produksi nanah di dalam saluran.
Dampak paling serius dari Radang Panggul adalah kerusakan permanen pada struktur Tuba Fallopi. Peradangan kronis dapat menyebabkan jaringan parut (scar tissue) terbentuk di dalam dan di sekitar tuba. Jaringan parut ini dapat menyebabkan tuba tersumbat sebagian atau seluruhnya, menghambat fungsi normal silia dan lumen tuba.
Kerusakan ini secara langsung menyebabkan masalah infertilitas. Tuba Fallopi yang tersumbat mencegah sperma bertemu dengan sel telur. Bahkan penyumbatan parsial dapat mengganggu pergerakan zigot menuju rahim. Sekitar 15% wanita yang mengalami satu episode Radang Panggul berisiko mengalami infertilitas.
Selain infertilitas, wanita yang pernah mengalami Radang Panggul memiliki risiko tinggi mengalami kehamilan ektopik. Jika Tuba Fallopi rusak tetapi tidak sepenuhnya tersumbat, sel telur yang dibuahi dapat tersangkut di dalam tuba. Kondisi ini berbahaya karena dapat menyebabkan pecahnya tuba dan pendarahan internal yang mengancam jiwa.
Gejala PID seringkali ringan atau bahkan tidak terdeteksi (silent PID), sehingga banyak kasus tidak diobati sampai kerusakan tuba sudah terjadi. Gejala umum meliputi nyeri panggul kronis, demam, keputihan abnormal, dan pendarahan tidak teratur. Deteksi dini dan pengobatan antibiotik yang agresif sangat penting.
Pencegahan adalah kunci untuk melindungi Tuba Fallopi dari kerusakan. Praktik seks aman, penggunaan kondom yang konsisten, dan pemeriksaan PMS secara rutin, terutama bagi individu yang aktif secara seksual, dapat secara signifikan mengurangi risiko infeksi yang mengarah pada PID.