Situasi kondusif di lingkungan pendidikan tinggi di Aceh Barat terusik oleh masuknya pengaruh barang haram ke dalam tempat tinggal para pelajar. Pihak kepolisian baru-baru ini berhasil melakukan operasi tangkap tangan terkait peredaran sabu masuk ke area asrama mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai lingkungan yang religius dan disiplin. Penangkapan ini merupakan hasil dari laporan intelijen serta kerja sama masyarakat yang mencurigai aktivitas tidak wajar dari beberapa oknum yang sering keluar masuk gedung tersebut pada jam-jam yang tidak semestinya, sehingga petugas segera melakukan penggerebekan mendadak.
Kejadian sabu masuk ke lingkungan akademik ini menjadi peringatan keras bagi pengelola asrama dan pihak kampus untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas penghuninya. Dalam operasi tersebut, polisi berhasil menciduk satu bandar utama yang diduga kuat sebagai pemasok narkotika kepada kalangan mahasiswa di wilayah tersebut. Barang bukti berupa paket kristal putih yang siap edar dan alat hisap ditemukan tersembunyi di dalam salah satu kamar, yang menunjukkan bahwa peredaran gelap ini telah mulai merasuk jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan para penuntut ilmu.
Penyelidikan mendalam mengungkapkan bahwa bandar tersebut sengaja menyasar mahasiswa sebagai target pasar potensial karena rentan terhadap tekanan akademik dan pergaulan yang salah. Modus peredaran sabu masuk ini sering kali disamarkan melalui kurir yang terlihat seperti mahasiswa biasa agar tidak menarik perhatian pihak keamanan kampus. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena narkoba tidak hanya merusak fisik penggunanya, tetapi juga menghancurkan masa depan dan produktivitas intelektual generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan di tanah Aceh di masa depan.
Pihak universitas mengecam keras kejadian ini dan menyatakan tidak akan memberikan bantuan hukum bagi mahasiswa yang terbukti terlibat dalam jaringan narkotika tersebut. Tindakan tegas berupa pemecatan dari kampus akan diberikan setelah adanya putusan hukum yang tetap. Sementara itu, untuk mencegah terulangnya kasus sabu masuk di masa mendatang, pihak kampus berencana untuk mengadakan tes urine secara berkala bagi seluruh penghuni asrama. Edukasi mengenai bahaya narkoba juga akan semakin digencarkan melalui berbagai seminar dan sosialisasi sebagai upaya benteng pertahanan mental para mahasiswa.