Karakteristik lingkungan lahan gambut dengan sumber air asam dan potensi kebakaran hutan menimbulkan tantangan kesehatan lingkungan yang unik bagi warga pemukiman sekitarnya. Guna memahami dan mencari solusi atas permasalahan kesehatan khas daerah basah tersebut, agenda praktikum mahasiswa kesehatan masyarakat diterjunkan secara resmi di desa percontohan area lahan gambut. Kegiatan lapangan ini diikuti oleh puluhan peserta didik yang siap melakukan riset kualitas air minum, sanitasi lingkungan, dan pemantauan penyakit saluran pernapasan. Melalui bimbingan dosen ahli, para mahasiswa dilatih menguji parameter fisika dan kimia air gambut yang digunakan warga harian.
Pada tahap awal praktikum, para siswa mengambil sampel air dari sumur-sumur warga untuk diuji tingkat keasaman dan kandungan zat organiknya menggunakan alat pengukur portabel. Hasil pengujian menunjukkan perlunya pengolahan air sederhana berbasis saringan pasir dan kapur guna meningkatkan kualitas air bersih yang aman dikonsumsi warga. Kegiatan praktikum mahasiswa ini memberikan pembelajaran praktis mengenai aplikasi teknologi tepat guna dalam memecahkan masalah ketersediaan air bersih di daerah sulit. Warga setempat tampak antusias mendengarkan penjelasan mahasiswa mengenai tata cara merakit filter air mandiri dengan biaya terjangkau.
Selain fokus pada kualitas air, para mahasiswa juga melakukan pemantauan dampas asap kebakaran lahan terhadap kejadian penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak. Langkah-langkah edukasi mengenai penggunaan masker yang benar dan pembuatan ruang bebas asap di dalam rumah disosialisasi secara meluas kepada keluarga pemukiman gambut. Pembekalan dari kegiatan praktikum mahasiswa ini terbukti efektif meningkatkan kesadaran warga dalam melindungi balita mereka dari paparan partikel asap bahaya. Pengumpulan data lapangan yang akurat menjadi bahan utama dalam menyusun rekomendasi kebijakan kesehatan lingkungan bagi pemerintah daerah setempat.
Sinergi antara peserta praktikum dan kader kesehatan desa juga terwujud melalui pembenahan sistem pengelolaan sampah di pemukiman tanah gambut yang rawan genangan air. Mahasiswa mendampingi warga dalam membuat tempat pembuangan sampah organik yang aman agar tidak mencemari lapisan air tanah yang dangkal. Pendekatan edukasi yang ramah dan membumi membuat materi kebersihan lingkungan dapat diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat perdesaan. Pengalaman lapangan ini memperkaya pemahaman praktis mahasiswa mengenai kompleksitas interaksi lingkungan dan derajat kesehatan publik.
Kegiatan praktikum diakhiri dengan lokakarya hasil riset lapangan yang dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pimpinan puskesmas setempat. Para mahasiswa mempresentasikan draf peta risiko kesehatan lingkungan lahan gambut beserta solusi penanggulangannya secara terstruktur. Pihak pengelola kampus mengapresiasi tinggi dedikasi para peserta yang mampu menyelesaikan tugas-tugas lapangan dengan hasil yang memuaskan. Keberhasilan praktikum keperawatan dan kesehatan masyarakat di Aceh Barat ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di wilayah lahan gambut.