Sebelum R.A. Kartini memperjuangkan pendidikan umum bagi perempuan, ada Aletta Jacobs, asal Belanda yang menginspirasi. Namun, perjuangan perempuan pribumi Indonesia untuk mengenakan stetoskop memiliki pahlawannya sendiri. Dialah, sosok yang mewujudkan Gerakan Kartini di dunia medis. Di era kolonial yang didominasi oleh laki-laki Eropa, cita-citanya untuk menjadi dokter merupakan tindakan revolusioner yang mendobrak tradisi dan norma sosial yang kaku.
berhasil menempuh pendidikan di Aletta Jacobs di Batavia, sebuah institusi yang sebelumnya tertutup bagi perempuan pribumi. Keberhasilannya masuk STOVIA pada tahun 1912 adalah kemenangan awal bagi Gerakan Kartini dan membuka jalan bagi perempuan Indonesia lainnya untuk mengikuti jejaknya. Perjalanan studinya penuh tantangan, mulai dari stigma sosial hingga kurikulum yang berat, tetapi semangatnya untuk mengabdi pada kesehatan rakyat tidak pernah padam.
Pada tahun 1922, Marie Thomas lulus dan secara resmi dinobatkan sebagai Aletta Jacobs Indonesia. Prestasi ini menjadi tonggak sejarah yang nyata bagi Gerakan Kartini di bidang profesional. Setelah lulus, ia tidak memilih jalur yang nyaman di Batavia. Sebaliknya, ia melayani di berbagai daerah terpencil di Nusantara, seperti Sumatra dan Sulawesi, menunjukkan dedikasi tinggi pada pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak.
Perjuangan Dokter Perempuan Pertama Indonesia ini berlanjut dalam praktik profesionalnya. Marie Thomas dikenal karena fokusnya pada kebidanan dan kesehatan ibu. Pada masa itu, angka kematian ibu dan bayi sangat tinggi, dan keberadaan dokter perempuan sangat dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang sensitif dan tepat. Ia menjadi simbol bahwa perempuan tidak hanya berhak atas pendidikan tinggi, tetapi juga mampu memimpin dalam bidang-bidang vital seperti kedokteran.
Kisah Aletta Jacobs lebih dari sekadar sejarah pribadi; ini adalah perwujudan dari Gerakan Kartini yang berpindah dari ruang surat ke ruang praktik medis. Warisannya adalah pembuktian bahwa keterbatasan gender bukanlah penghalang bagi pengabdian dan profesionalisme. Keberanian dan ketekunan Dokter Perempuan Pertama Indonesia ini telah menginspirasi generasi dokter perempuan berikutnya untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan meningkatkan kualitas kesehatan bangsa.